Banyak orang beranggapan bahwa berenang adalah aktivitas olahraga yang membebaskan tubuh dari risiko kekurangan cairan karena seluruh permukaan kulit bersentuhan langsung dengan air dingin. Namun, PRSI Tangerang baru-baru ini meluncurkan kampanye intensif untuk meluruskan persepsi tersebut dengan menekankan bahaya dehidrasi saat berlatih, terutama di kolam renang outdoor yang terpapar sinar matahari langsung. Suhu udara yang tinggi di wilayah Tangerang dapat meningkatkan suhu inti tubuh perenang secara signifikan, yang memicu keluarnya keringat meskipun tidak terasa karena langsung menyatu dengan air kolam. Sebagai bagian dari edukasi kesehatan atlet, kampanye ini juga menekankan pentingnya jaga pH air kolam agar selain terhindar dari dehidrasi, kesehatan mata dan kulit perenang juga tetap terlindungi dari iritasi akibat bahan kimia yang tidak seimbang.
Masalah bahaya dehidrasi saat berlatih pada perenang sering kali bersifat “tersembunyi” karena rasa haus sering tidak muncul secepat saat melakukan lari atau bersepeda. PRSI Tangerang menjelaskan bahwa ketika seorang atlet berlatih di bawah terik matahari, proses penguapan cairan dari tubuh tetap terjadi dengan sangat cepat. Jika asupan cairan tidak terjaga, volume darah dalam tubuh akan menurun, yang mengakibatkan jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa oksigen ke otot-otot yang sedang bekerja. Hal ini tidak hanya menurunkan performa secara drastis, tetapi juga meningkatkan risiko kram otot yang bisa berakibat fatal jika terjadi di tengah kolam yang dalam. Kampanye ini bertujuan untuk membangun kebiasaan baru bagi para atlet untuk selalu membawa botol minum ke pinggir kolam dan melakukan hidrasi secara berkala setiap 15 hingga 20 menit sesi latihan.
Selain faktor suhu, intensitas latihan renang yang tinggi di Tangerang juga menuntut pemahaman mengenai elektrolit. Air putih saja terkadang tidak cukup untuk mengganti mineral yang hilang melalui keringat saat sesi latihan jarak jauh. PRSI Tangerang menyarankan para pelatih untuk memantau berat badan atlet sebelum dan sesudah latihan guna mengetahui seberapa banyak cairan yang hilang. Kehilangan berat badan sebesar satu persen saja sudah bisa mengganggu koordinasi saraf dan kekuatan otot. Oleh karena itu, edukasi mengenai minuman isotonik yang tepat juga menjadi bagian dari materi kampanye ini. Para atlet diingatkan bahwa performa puncak hanya bisa dicapai jika kondisi internal tubuh berada dalam keadaan homeostasis yang stabil.
